Keuangan Inklusif Warga Gorontalo Rendah, Kemenkeu Gelar Edukasi

Wakil Gubernur Gorontalo Idris Rahim (kanan) menyerahkan cinderamata kepada Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan Kementrian Keuangan, Ayu Sukorini saat Seminar Edukasi Keuangan Inklusif, Kamis (13/9/2018). Pada seminar tersebut terungkap bahwa akses warga terhadap produk perbankan di Gorontalo masih rendah dengan presentasi 19,51 persen dari rata-rata nasional sebesar 27,03 persen. (Foto: Isam-Humas).

KOTA GORONTALO, Humas – Guna meningkatkan keuangan infklusif warga Gorontalo, Kementrian Keuangan (Kemenkeu) Ri menggelar Seminar Edukasi Keuangan Inklusif yang berlangsung di hotel Maqna, Kota Gorontalo, Kamis (13/9/2018).

Keuangan inklusif adalah kondisi ketika setiap anggota masyarakat mempunyai akses terhadap berbagai layanan keuangan formal seperti tabungan, kredit, asuransi dan pasar modal.

Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional di mana presentasi penduduk berusia 15 tahun ke atas baru mencapai 27,03 persen. Untuk Provinsi Gorontalo baru mencapai 19,51 persen, atau berada di urutan ke 32 dari 34 provinsi.

Kepala Pusat Kebijakan Sektor Keuangan, Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu RI, Ayo Sukorini menjelaskan, secara global World Bank menggelar survei untuk memperbandingkan 140 negara untuk Global Financial Indeks. 150 Ribu orang disurvei pada tahun 2017 lalu.

Wakil Gubernur Gorontalo Idris Rahim foto bersama dengan para pemateri Seminar Edukasi Keuangan Inklusif yang digelar di Hotel Maqna, Kota Gorontalo, Kamis (13/9/2018). Seminar ini diharapkan dapat meningkatkan akses produk keuangan salah satunya melalui transaksi keuangan nontunai kepada masyarakat dan pemerintah daerah. (Foto: Isam-Humas).

“Tingkat keuangan inklusif di Indonesia yang dihitung kepemilikan rekening pada lembaga keuangan formal baru mencapai 48,9%, sementara dunia secara rata rata 69 persen dan negara-negara di ASEAN 50,64%. Artinya kita masih cukup tertinggal dengan negara lain,” terang Ayu.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk meningkatkan keuangan inklusif di Indonesia. Di antaranya dengan menerbitkan Perpres no. 82 tahun 2016 tentang strategi nasional keuangan inklusif.

Strategi kebijakan fiskal pemerintah lebih banyak diarahkan untuk program perlindungan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Di antaranya dengan penyaluran program bantuan sosial nontunai yang lebih tepat sasaran, peningkatan akses permodalan dan daya saing UMKM serta optimalisasi dana Badan Layanan Umum (BLU).

Sementara itu, Wakil Gubernur Gorontalo Idris Rahim menyambut baik pelaksanaan Seminar Edukasi Keuangan Inklusif. Ia menilai edukasi semacam ini perlu terus dilakukan agar pemahaman keuangan lebih merata di seluruh lapisan masyarakat.

“Rendahnya keuangan inklusif ini menjadi tugas dan tanggungjawab kita bersama untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat. Sebab setiap warga negara Indonesia berhak untuk mendapatkan kemudahan akses terhadap produk financial,” ujar Idris.

Wagub Idris menilai pemanfaatan produk perbankan sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, menciptakan stabilitas sistem keuangan dan mendorong program penanggulangan kemiskinan. Selain itu, keuangan inklusif diharapkan dapat mengurangi kesenjangan antar warga dan daerah.

Pewarta: Isam

Bagikan Berita

Facebook
Twitter
Pinterest
WhatsApp

ARSIP BERITA

KATEGORI