Pemprov Susun Grand Design Provinsi Konservasi

Provinsi Gorontalo ditetapkan menjadi provinsi konservasi ketiga di Indonesia oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Menindaklanjuti penetapan tersebut, Penjabat Gubernur Gorontalo Prof. Zudan Arif Fakrulloh telah menginstruksikan seluruh SKPD Provinsi Gorontalo untuk menyusun grand design provinsi konservasi yang fokus pada upaya pembenahan empat spasial, yakni wilayah pegunungan, pantai dan laut, daratan, dan spasial danau.

“Kita akan mengedepankan empat spasial yang harus dibenahi, yakni spasial wilayah pegunungan, pantai dan laut, daratan, dan spasial danau,” kata Zudan pada kegiatan konsultasi dan sosialisasi kebijakan adaptasi perubahan iklim Kabupaten Gorontalo di tingkat Provinsi Gorontalo, yang digelar di ruang Karawo Bappeda Provinsi Gorontalo, Selasa (7/2).

Zudan menjelaskan, pelestarian wilayah pegunungan dilakukan dengan menanami pohon keras seperti durian, rambutan, dan pohon keras lainnya, yang selain bermanfaat untuk mencegah longsor, juga bisa menambah penghasilan masyarakat dalam jangka panjang.

“Jagung tetap kita tanam, tetapi tidak boleh tanaman jagung menghilangkan tanaman keras yang justru akan mengakibatkan gunung-gunung longsor. Kita ajak masyarakat untuk berkomitmen menanam jagung, dan juga menanam pohon-pohon keras untuk pelestarian wilayah pegunungan,” jelasnya.

Untuk wilayah pantai dan laut, akan difokuskan pada upaya menjaga dan melestarikan hutan mangrove, serta melakukan penanaman kembali tanaman mangrove dibeberapa lokasi yang telah mengalami kerusakan. Sedangkan untuk spasial danau, konservasi akan dilakukan untuk menanggulangi pendangkalan dan sedimentasi yang tinggi melalui upaya pengerukan, pembersihan enceng gondok, dan pelestarian biota danau.

Sementara untuk wilayah daratan, pelestarian lingkungan dilakukan dengan meningkatkan ruang terbuka hijau. Zudan mengungkapkan, meski kawasan daratan di Provinsi Gorontalo masih cukup luas, namun tingkat pembangunan harus ditekan dan diarahkan pada bangunan yang lebih ramah lingkungan.

“Saat ini kita lebih banyak membuat bangunan dengan konsep kotak sabun, semuanya ditutup, dan kita cenderung mengambil solusi instan untuk penerangan bangunan dengan listrik dan pendingin ruangan dengan AC. Padahal kita bisa membuatnya lebih ramah lingkungan dengan desain tanpa listrik sudah terang, dan tanpa AC udaranya sudah sejuk,” pungkas Zudan. (Haris-Tim Redaksi Humas / Foto : Salman)

Bagikan Berita

Facebook
Twitter
Pinterest
WhatsApp

ARSIP BERITA

KATEGORI