
Kota Gorontalo, Kominfotik – Momen halal bihalal alumni dan kader KAHMI/HMI – FORHATI/KOHATI Gorontalo bersama Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi digunakan untuk kilas balik perjalanan dirinya sebagai aktivis. Mantan Ketua HMI Denpasar 1992-1993 itu bercerita pernah dua kali gagal mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) HMI.
“Nyalon ketua PB HMI, dua kali nyalon dua kali kalah. Salah satu tim sukses saya mas Amir Arham (WR III UNG). Saya sudah cetak buku, ada dua buku saya cetak sebagai produk intelektualitas. Ternyata tidak berpengaruh signifikan,” kenang Yoga saat memberi sambutan di acara yang berlangsung di Aula Rumah Jabatan Gubernur Goronto, Rabu (8/4/2026).
Meski pernah dua kali gagal maju, Viva Yoga akhirnya dipercaya sebagai Ketua PB HMI 1995-1997. Menurutnya, berproses di HMI mampu membentuk dirinya menjadi politisi hingga dipercaya sebagai Wamentrans di era Presiden Prabowo Subianto.
“Hidup di HMI penuh dengan suasana pengkaderan baik formal maupun non formal. Saya bisa seperti ini karena pengkaderan di HMI. Kakanda Gusnar merintis dari PNS Dinas Pertanian hingga jadi gubernur juga dari HMI. Artinya proses kaderisasi menjadi bagian penting dalam pematangan diri,” tegas mantan Pimpinan Kolektif Majelis Nasional KAHMI periode 2010 – 2013 itu.
Uniknya, halal bihalal tersebut juga menjadi momen reuni Bupati Gorontalo Utara Thariq Modanggu sekaligus Koordinator Presidium Wilayah KAHMI Gorontalo dengan Viva Yoga. Thariq sebagai mantan pengurus BADKO HMI 1995-1997 pernah dilantik Yoga yang kala itu menjabat ketua PB HMI.
“Alhamdulillah sekarang berjumpa lagi saya sebagai Bupati dan Kakanda Viva Yoga sebagai Wakil Menteri,” kata Thariq yang turut memberi sambutan.
Sementara itu, Gubernur Gusnar Ismail sekaligus mantan Ketua HMI Cabang Manado tahun 1983 mengaku senang bisa menggelar silaturahmi bersama alumni dan kader HMI. Ia berharap acara semacam ini bisa terus dilaksanakan, khususnya ketika ada pejabat negara kader HMI yang berkunjung ke daerah.
“HMI adalah proses yang panjang, proses yang cuma dua paradigma positif dan negatif, kalah dan menang. Kekalahan jangan dipelihara terus, kalau diberi amanah dikerjakan dengan baik,” kata Gusnar.
Setidaknya ada tiga hal yang dititipkan Gusnar Ismail untuk seluruh alumni dan kader HMI untuk diperjuangkan. Pertama menyangkut pembangunan perluasan Bandara Djalaluddin untuk embarkasi haji, alih status IAIN Sultan Amai menjadi UIN serta pembangunan Masjid Raya Gorontalo Islamic Centre.
Pewarta : Isam