Kesbangpol Provinsi Gorontalo Gelar Forum Pembauran Kebangsaan

Plh. Sekda Provinsi Gorontalo Syukri Botutihe (kedua kanan) memberikan arahan pada Rapat Forum Pembauran  Kebangsaan (FPK), di aula Kesbangpol, Kamis (1/8/2019). (Foto: Nova-Humas)

KOTA GORONTALO, Humas – Untuk meningkatkan kerukunan masyarakat agar tetap harmonis, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Gorontalo menggelar Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), Kamis (1/8/2019).

Acara yang berlangsung di aula Kesbangpol tersebut, dihadiri Plh Sekda Provinsi Gorontalo Syukri Botutihe, Ketua FPK Gorontalo Idah Syahidah, tokoh adat, tokoh masyarakat, mahasiswa serta ketua paguyuban.

Plh Sekda Syukri Botutihe dalam arahannya mengatakan, seiring perkembangan jaman, masyarakat Gorontalo sudah menjadi masyarakat yang heterogen dengan berbagai suku, adat dan budaya. Fenomena ini harusnya bisa dimanfaatkan untuk memupuk persaudaraan terlebih di era media sosial dewasa ini.

“Jangan sampai akibat dari perkembangan jaman media sosial ini, kita akan terbawa arus sampai kita membentuk kelompok sendiri. Misalkan orang Sulawesi Selatan sudah tidak mau lagi bergaul dengan kelompok Minahasa, Gorontalo dan Sulawesi lainnya. Sementara kita harus menghindari adanya parsialisasi komunitas seperti itu,” ujar Syukri.

Oleh kerenanya, kehadiran FPK sangat dibutuhkan untuk menjaga keutuhan masyarakat Gorontalo. FPK dibentuk agar pemerintah bersama masyarakat bisa menciptakan iklim kondusif menerima kemejemukan masyarakat dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sementara itu, Ketua FPK Idah Syahidah mengatakan, kegiatan hari ini tujuannya untuk mempersatukan persepsi dari berbagai etnis yang selama ini tinggal di Gorontalo. Ragam etnis pada gilirannya diharapakan dapat mendukung program pemerintah, memberi masukan yang positif dan berkontribusi untuk pembangunan.

“Karena kita tahu bersama, bahwa daerah kita ini merupakan daerah teraman di Indonesia. Kondisi inilah yang harus diciptakan terus jangan sampai predikat itu hilang karena gesekan gesekan dan perbedaan pendapat,” ujar Idah.

Idah juga mengungkapkan, pada dasarnya eksistensi generasi muda yang mudah emosi menjadi rawan memicu gesekan sosial. Oleh karena itu perlu terus dibina dalam forum-forum FPK melalui pengurus organisasi mahasiswa dan paguyuban.

“Generasi muda ini gesekannya cepat sekali panas, mata baru memandang saja mereka anggap sudah mengancam, dianggap sudah mengejek. Dalam forum ini ada orang tua sebagai pengawas dalam mendidik anak-anaknya. Saya berharap agar 4 pilar kebangsaan lebih tajam lagi tidak hanya di FPK tetapi di tingkat sekolah,” pungkasnya.

Pewarta: Nova

Editor: Isham

Bagikan Berita

Facebook
Twitter
Pinterest
WhatsApp

ARSIP BERITA

KATEGORI