GMPT Lebih Membutuhkan Jagung Lokal Ketimbang Impor

Gorontalo – Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GMPT) lebih membutuhkan produksi Jagung lokal ketimbang impor, karena Jagung lokal lebih fresh dan tidak berdebu.

“Kami dari asosiasi pakan ternak, pada prinsipnya lebih menyukai Jagung lokal, dari pada impor, karena kualitasnya jauh lebih bagus,” Kata

Desyanto, salah satu pengusaha perusahaan pakan ternak, saat dialog dengan petani Jagung Gorontalo.

Akan tetapi yang jadi persoalan di asosiasi ini adalah, kontiniutas dari pada produksi Jagung lokal yang sering terhenti, atau ketersedianya kurang, sehingga pada waktu tertentu pihaknya kekurangan Jagung.

“Tapi dengan momentum pertemuan dengan petani Jagung Gorontalo, ada jaminan buat kami untuk dapat menyerapnya, khususnya produksi dari Gorontalo,” ujarnya.

Dijelaskanya bahwa, 90 persen pabrik pakan yang diproduksi di Indonesia adalah pakan Ayam, sehingga kalau berbicara pakam Ayam 50 persenya adalah Jagung, dan tahun ini pihaknya akan memproduksi 17,5 juta Ton pakan.

Itu artinya pihaknya akan membutuhkan sedikitnya 8 juta Ton Jagung, yang dirata-ratakan sebulan membutuhkan sekitar 700 Ribu Ton, ini baru melihat perusahaan bersar belum lagi perusahaan kecil lainya.

“Saya ingat waktu itu setelah Gubernur Rusli Habibie ketemua Menteri Pertanian, saya dimarahi oleh pak menteri sebab ada info 1 Juta Ton Jagung di Gorontalo tidak terserap,”jelasnya.

Menurutnya bahwa, semenjak itu pihaknya secara marathon, Dua kali datang ke Gorontalo dan sudah mengidentifikasi jumlah “trader” di Gorontalo yang ada alat pengeringnya.

Pihaknya mengakui bahwa, sudah menghadap direktur pakan dan hasilnya salah satu anggota dari asosiasi tersebut, sudah akan mendirikan Silo dan Dryer di Gorontalo.

“Namun kami masih mencari lokasi yang tepat yang tidak terlalu jauh dari lokasi produksi,”jelasnya.

Pihakanya akan membangun salah satu sentra produksi Jagung di Gorontalo dilengkapi Silo dan Dryer dengan kapastitas besar, dengan maksud untuk menampung Jagung yang tidak diserap oleh perusahaan yang ada di Gorontalo.

“Kami tidak akan bersaing, tetapi membantu menyerap Jagung yang sudah tidak bisa diserap oleh perusahaan yang sudah ada,”ucapnya.

Sementara itu Timbul Sihombing dari Asosiasi ternak menjelaskan bahwa, komitmen pihaknya, kalau pun ada Jagung Gorontalo yang belum terserap, pihaknya bersepakat untuk membeli sisa stok Jagung Gorontalo.

Bagikan Berita

Facebook
Twitter
Pinterest
WhatsApp

ARSIP BERITA

KATEGORI